BOWO DAN TIGA PENDEKAR
Penulis : Yanti Vrida Agustrianti, S.Pd.
Sayup-sayup terdengar suara adan subuh di telingaku. Kutarik selimut kumal kesayanganku hingga menutupi tubuhku. Suara Emak memecah keheningan,”Bangun, Wo! Shalat Subuh.”
“Iya, Mak. Sebentar!”Aku balas berteriak.
Emak sedang wudu. Suara cipratan air di kamar mandi membuatku bergidik kedinginan mengurungkan niatku untuk bangun.
Tak lama suara pintu ditutup dari luar, lengkap dengan teriakan Emak,”Emak dan Abah duluan ke musola. Kamu nyusul ya, Wo!”
Hmmm … sepertinya Emak dan Abah sudah pergi. Badanku semakin mengerut di bawah selimut. Udara pagi ini dingin sekali. Akupun terlelap kembali.
***
Suara pintu diketuk nyaring membangunkanku. Ihhhh, Emak dan Abah biasanya juga langsung masuk, kenapa tiba-tiba ketuk-ketuk segala. Kayak tamu aja. Kutarik kembali selimut sampai ke leher.
Suara ketukan pintu semakin nyaring. Terpaksa aku beranjak dari tempat tidur dengan malas.
“Ya, tunggu sebentar!” ucapku saat pintu diketuk nyaring untuk ke sekian kali.
Aku terkejut saat kubuka pintu. Tiga orang dengan perawakan tinggi besar berpakaian seperti pendekar jaman dulu. Persis seperti yang kulihat di sinetron tadi malam. Bedanya, pakaian yang digunakan warnanya aneh. Yang berdiri tepat di daun pintu mengenakan pakaian pendekar berwarna jingga terang. Tangan kanannya menyentuh semacam senjata di pinggang kirinya. Bentuknya seperti gambar matahari, warnanya kuning terang.
Di sebelah kanannya, berdiri gagah seorang pendekar lain. Pakaian yang dikenakannya berwarna putih bersih tanpa noda. Segar sekali melihatnya. Matanya menatapku tajam. Oh, alangkah beningnya bola matanya.
Di sebelah kiri pendekar berpakaian jingga, berdiri kokoh seorang pendekar perempuan. Pakaian yang dikenakannya berwarna hijau muda. Rambutnya berkibar lembut seperti diterpa angin sepoi-sepoi. Parasnya sangat cantik. Sejuk dipandang. Jika aku menarik napas, wangi rambutnya memenuhi hidungku.
Lepas dari rasa terkejutku, aku bertanya,”Siapa kalian? Jika kalian hendak menemui Emak dan Abah, mereka masih di musola. Sebentar lagi mereka datang.”
“Kami tamu dari jauh. Kami hendak menemuimu, Bowo.”
“Hey, dari mana kalian tahu namaku?”
“Mudah saja, kami punya daftar nama anak-anak yang harus kami kunjungi. Tapi hari ini kami khusus mengunjungimu untuk membawamu ke suatu tempat.”
“Kalian tidak bisa begitu saja membawaku pergi tanpa sepengetahuan Emak dan Abah.”ucapku gemetar ketakutan.
“Tak apa, kami akan memberitahukan mereka nanti. Mari, ikuti kami!”
Seperti kerbau dicocok hidung aku mengikuti ajakan mereka. Sejenak melupakan pesan Emak dan Abah agar aku tidak berbicara apalagi mengikuti orang yang tak kukenal.
Kami berjalan beriringan. Di depan kami Pendekar Jingga berjalan gagah sebagai penunjuk jalan. Pendekar perempuan berbaju hijau berjalan di sebelahku dengan senyum terus mengembang di bibirnya. Di belakang kami Pendekar berpakaian putih mengiringi. Matanya menengok ke sana ke mari. Mungkin seperti bodyguard di film-film yang kutonton.
Perasaan takut dan penasaran bercampur aduk. Kami melewati pematang sawah besar yang biasa kulewati jika hendak pergi ke musola. Dari kejauhan kudengar ustadz Iqbal mengumandangkan surat Al-Fatihah. Rupanya Emak dan Abah masih salat berjamaah.
Kami berbelok menjauhi arah masjid. Heyyy, aku tahu jalan ini. Ini jalan menuju bukit kecil tempat kami bermain sambil menggembala kambing. Tapi kenapa jalannya sangat indah. Di sebelah kanan dan kiri jalan dipenuhi rumput hijau. Padahal jika aku ke sini di siang hari, rumputnya nampak layu. Dan, hey, di ujung rumput ada setitik air yang sangat bening. Seperti kilau berlian mahal.
Hey, hey, hey tak salah lihatkah aku? Titik air di ujung rumput seolah membungkuk. Hormat pada siapa? Aku memutar leherku melihat ke arah belakang. Di sana kulihat Pendekar berpakaian putih meletakkan tangan kanannya di dada sebelah kiri. Menunjukkan rasa hormat pada titik-titik air di ujung rumput. Hmmmm, rupanya beliau adalah Pendekar Embun.
Belum hilang rasa heranku, kami sudah menuju jalan menanjak. tak salah lagi, ini memang jalan menuju bukit kecil tempat kami menggembala. Badanku yang tadi menggigil kedinginan terasa lebih hangat. Badanku terasa segar. Angin berhembus pelan menggerakkan batang dan ranting-ranting pohon. Mereka seolah tunduk. Hey, tunduk?
Aku semakin memperhatikan batang dan ranting pohon di sepanjang jalan. Aku memutar leherku ke belakang. kali ini, Sang Pendekar berpakaian putih tak lagi meletakkan tangan kananya di dada kiri. Tangannya bebas terayun dengan senyuman yang terus menyungging. Lantas kepada siapakah ranting ini memberikan hormatnya?
Olala, aku baru sadar ketika melihat ke sebelahku. Pendekar perempuan berpakaian hijau meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. Persis seperti yang dilakukan pendekar berpakaian putih sebelumnya. Oh, rupanya mereka memberikan penghormatan kepada Pendekar Hijau! Mungkin, pendekar berpakaian hijau adalah Pendekar Angin.
Sambil terheran-heran aku tetap melangkahkan kakiku mengikuti ketiga pendekar ini. Aku tak tahu kalau angin di pagi hari begitu sejuk. Paru-paruku rasanya penuh dengan oksigen. Napasku nyaris tak terdengar. Lega sekali rasanya.
Entah berapa lama aku tak merasakan segarnya udara pagi. Setiap Emak dan Abah membangunkanku saat adan subuh, aku akan kembali terlelap dan baru bangun satu jam setengah kemudian! Tergesa-gesa mandi, lalu berangkat sekolah. Salat Subuh pun kulewatkan. Emak akan mengomel panjang pendek melihat kelakuanku.
Pernah pula Emak menarik selimutku dengan kasar ketika aku bangun setengah delapan pagi. Selimutku Emak pukulkan ke tubuhku. Emak marah besar. Apa salahnya, coba? Ini kan hari libur. Kenapa pula Emak marah besar kalau aku bangun siang? Itu kan hakku! Seharian aku tak ditegur oleh Emak. Aku sih cuek saja, nanti juga Emak baik lagi padaku. Dan benar saja, sebelum magrib, Emak sudah menyiapkan makanan kesukaanku. Menyuruhku mandi dan mengaji. Bahkan baju mengajikupun sudah disiapkan oleh Emak. tak seperti biasanya.
Sejak itu, Emak tak lagi marah jika aku bangun kesiangan. Mungkin Emak kasihan melihat anaknya tidur pulas di pagi hari. Apalagi Abah, sebelum jam enam pagi sudah berangkat ke sawah. Sepertinya Abah tak tahu kalau aku suka bangun siang.
***
Kami meneruskan perjalanan. Tak seperti biasanya, perjalanan kali ini tak melelahkan. Padahal biasanya keringat bercucuran dan aku terbiasa menghabiskan satu botol air minum jika berjalan ke sini.
Jalan semakin menanjak. Butiran air di ujung rumput semakin tak terlihat. Angin sepoi-sepoi semakin melambat. Pendekar hijau menepuk bahuku dan menunjukkan sebuah pemandangan menakjubkan di depan kami.
Kami sudah sampai ke puncak bukit. Di sebelah timur kulihat warna langit merah bersemu jingga. Semakin lama semakin terang. Cahayanya menyapu pakaian pendekar jingga. Pakaian yang dikenakannya seketika memancarkan cahaya. Cahayanya membuatku bersemangat. Mungkin beliau adalah Pendekar Mentari.
Pancaran cahayanya menyapu tubuhku. Aliran hangatnya masuk ke dalam tubuhku. Hatiku terasa bahagia. Hey, aku siap menghadapi hari ini! Sapuan cahaya ke arah wajahku terasa hangat. Tiupan angin lembut menyejukkanku. Ya, Tuhan! Ini indah sekali. Semangatku membara!
Tiba-tiba angin sejuk berhenti menyapu wajahku. Pancaran cahaya hangat tiba-tiba terasa panas lalu mendingin dengan tiba-tiba. Cahaya jingga berubah menjadi hitam. Menakutkan! Kulihat ke arah rerumputan, tak ada lagi air di ujungnya. Warna hijaunya berubah menjadi coklat dengan cepat. Ya, Tuhan, rerumputan mengering!
Semangatku yang membarapun hilang tergantikan oleh rasa takut. Apa yang terjadi? Pendekar Mentari yang berdiri di hadapanku tak lagi menampakkan wajah tampannya yang gagah. Pakaiannya berubah menjadi hitam. Pendekar Mentari murka!
Pendekar Embun dengan tatapan yang menenangkanpun berubah. Tatapannya mengerikan. tak ada lagi bening matanya. Kini matanya menjadi merah. Pendekar Embun marah!
Kulihat Pendekar Angin dengan rambut indahnya. Kini tak lagi indah, rambutnya mengering! tak ada lagi tiupan angin sepoi-sepoi. Harum rambutnya pun tak lagi tercium. Yang ada bau sangit seperti rambut terbakar. Aku semakin takut.
Pendekar Mentari bertanya dengan suara yang menggelegar,”Berapa lama tak kaurasakan lagi mentari pagi yang hangat?”
Pendekar Embun bertanya dengan suara gemericik yang menakutkan,”Berapa lama tak kaulihat embun pagi hari yang sejuk?”
Pendekar Angin bertanya dengan suara gemerisik yang menakutkan,”Berapa lama tak kaurasakan belaian angin sejuk di pagi hari?”
Aku tercekat. Aku takut. Di tengah ketakutanku aku teringat pesan Emak, jika melihat orang marah kita harus tenang. Jika engkau merasa bersalah, mintalah maaf.
“Aku minta maaf! Aku bersalah! Aku tak lagi menikmati keindahan pagi hari karena kebiasaanku bangun siang. Aku minta maaf! Aku minta maaf!”Aku menutup mata. Menunggu apa yang akan terjadi. Aku pasrah, aku memang salah. Suara menggelegar, gemericik, dan gemerisik pelahan tak terdengar. Perlahan kubuka mataku.
Emak benar! Pakaian hitam Pendekar Mentari berubah menjadi jingga kembali. wajah menyeramkannya pelahan kembali menjadi tampan. Senyumnya mengembang.
Kulihat Pendekar Embun. Mata merahnya kembali bening. Tatapannya tajam dan menenangkan. Aku lega.
Rambut Pendekar Angin mulai tercium wanginya. Bau sangit sudah tak tercium lagi. Wajahnya sangat cantik. Atau mungkin lebih cantik. Aku bertambah lega.
Mereka mengelilingiku. Aku tak takut lagi kini.
“Apa yang kaurasakan, Wo?” Pendekar Angin bertanya. Kali ini nadanya menggetarkan hati. Memunculkan perasaan bersalah dalam hatiku.
“Aku menyesal selalu bangun siang. Sudah lama aku tak merasakan semangat membara di pagi hari.”ucapku.
“Apa yang akan kaulakukan sekarang, Wo?” Pendekar Embun bertanya dengan tatapan teduh yang menenangkan.
“Mulai sekarang, aku akan bangun pagi. Aku akan menghirup udara pagi, menikmati sejuknya embun, dan merasakan hangatnya mentari pagi.”ucapku sungguh-sungguh.
“Apa lagi yang akan kau lakukan, Wo?”Kali ini suara lembut Pendekar Angin bersuara.
“Aku akan minta maaf sama Emak. Aku telah menyusahkan hati Emak. Aku telah membuat Emak murka. Aku tak mau Tuhan memurkaiku karena Emak murka terhadapku.”aku berkata sambil menunduk. tak terasa butiran air mata menetes. Aku benar-benar menyesal.
“Tuhan menciptakan pagi dengan segala keberkahannya. Engkau akan merugi bila melewatkannya.” Kali ini Pendekar Mentari berkata lemah lembut, semakin menyadarkanku.
“Engkau telah menyadari kekeliruanmu. Saatnya kami pergi. Masih banyak anak-anak yang harus kami kunjungi.”Pendekar Embun bangkit dan bersiap meninggalkanku.
“Selamat tinggal, Bowo!”Pendekar Angin mengakhiri perjumpaan kami.
Kulambaikan tangan dan kuucapkan terima kasih. Mereka mengangguk dan melambaikan tangan.
“Kenapa, Wo? Tidur sambil lambai-lambai tangan!”Sebuah suara menegurku.
Aku berhenti melambaikan tangan. Perlahan kubuka mataku.
“Bangun, pemalas!”suara Ustadz Iqbal renyah menggodaku. Aku melihat ke arahnya. Hey, Pak Ustadz memakai koko jingga. Warnanya persis seperti warna pakaian yang dikenakan Pendekar Mentari!
“Hehehe iya, susah bangun nih, Pak Ustadz!”suara Abah menyadarkan keterkejutanku. Sambil tersenyum kulihat Abah. Astagfirullah, Abah memakai koko putih! Jangan-jangan Abah adalah Pendekar Embun.
“Ayo mandi, Wo!”Emak berkata sambil membelaiku. Aku melihat Emak. Dan kalian tentu sudah menduga, Emak mengenakan kebaya hijau! Menurut kalian, apakah Emak Pendekar Angin?
***